Jumat, 26 November 2010

SISTEM SURVEILAN DBD

Penyakit Demam Berdarah Dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) atau lebih dikenal dengan DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan dari orang ke orang oleh nyamuk Aedes aegypti. Kota Semarang termasuk daerah endemis DBD. Kalau kita melihat Angka insidensi DBD di Kota Semarang, pada tahun 2005 jumlah penderita DBD mencapai 2.297 dengan CFR 1,7 (DKK Semarang, 2005). Situasi penyakit DBD di Kota Semarang pada tahun 2007 merupakan fenomena terbesar kejadiannya selama 13 tahun terakhir, dengan jumlah penderita mencapai 2924 kasus. Tahun 2008 situasinya bahkan semakin buruk dimana kasus DBD yang terjadi sebanyak 3868 kasus.

Melihat kegawatan penyakit ini maka seharusnya sistem pencatatan dan pelaporan guna keperluan perencanaan, pencegahan dan pembarantasan penyakit DBD didukung oleh sistem yang handal, yakni suatu sistem yang dapat menyediakan data dan informasi yang akurat, valid dan up to date. Namun sampai saat ini sistem surveilans DBD di Dinas Kesehatan Kota Semarang masih dikerjakan secara manual. Dengan sistem seperti ini maka sering timbul masalah tentang keterlambatan pelaporan serta data yang disajikan tidak up to date, yang pada akhirnya akan menggangu proses perencanaan, pencegahan dan upaya-upaya pembarantasan. Maka untuk itu perlu dirancang suatu sistem surveilans yang didukung oleh teknologi informasi sehingga bisa diakses secara on line oleh petugas kesehatan (baik Puskemas maupun dinas kesehatan) serta masyarakat pada umumnya.

Sistem surveilans penyakit DBD adalah pengamatan penyakit DBD di Puskesmas meliputi kegiatan pencatatan, pengolahan, dan penyajian data penderita DBD untuk pemantauan mingguan, laporan mingguan wabah, laporan bulanan program P2DBD, penentuan desa/kelurahan rawan, mengetahui distribusi kasus DBD/kasus tersangka DBD per RW/dusun, menentukan musim penularan dan mengetahui kecenderungan penyakit (Ditjen P2M & PLP, 1992).

Kegiatan penanggulangan yang dilakukan antara lain pengasapan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), abatisasi dan penyuluhan. Beberapa faktor penyebab DBD diantaranya karena peningkatan kasus di daerah endemis, beberapa daerah yang selama ini sporadis terjadi KLB, kemungkinan ada kaitannya dengan pola musiman 3-5 tahunan, kemudian bila dilihat dari hasil PJB, angka bebas jentik (ABJ) dibeberapa daerah endemis masih dibawah 95% (tahun 2004 ABJ sebesar 92,0%), untuk tahun 2006, ABJ tercatat sebesar 68,48%. Sedangkan untuk tahun 2007 ABJ tercatat 65,21% dan untuk tahun 2008 ini ABJ mengalami peningkatan sebanyak 68,90 %.

Sistem surveilan DBD yang baik harus memenuhi Indikator kinerja sebagai berikut :

a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sebesar 90%.

b. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sebesar 80%.

c. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator epidemiologi STP
sebesar 80%.

d. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke
Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100%.

e. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke
Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90%.

f. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen
PPM&PL Depkes sebesar 100%.

g. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen
PPM&PL Depkes sebesar 90 %.

h. Distribusi data dan informasi bulanan kabupaten/kota, propinsi dan nasional sebesar 100%

i. Umpanbalik laporan bulanan kabupaten/kota, propinsi dan nasional sebesar 100%.

j. Penerbitan buletin epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun.

k. Penerbitan buletin epidemiologi di Propinsi dan Nasional adalah sebesar 12 kali setahun

l. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota, Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun